Why IT Projects Fail Before Coding Begins
Volume 01 — The Way We Think
Essay 03

Sering kali, kemandekan sebuah proyek justru bermula dari kegagalan memahami akar masalahnya. Ketika pengguna digital dihadapi keterlambatan atau kegagalan mencapai hasil optimalnya, rata-rata pertanyaan yang terpikirkan pasti ada masalah dengan fase development. Akhirnya, tidak jarang kita mendengar anggapan seperti berikut.
“Developernya kurang cepat.”
“Teknologinya salah.”
“Framework yang dipilih kurang tepat.”
Padahal, berdasarkan pengalaman kami, akar permasalahan sering kali sudah muncul jauh sebelum satu baris kode pertama ditulis. Fase yang paling menentukan bukanlah saat menulis kode, melainkan saat memastikan bahwa masalah yang ingin diselesaikan benar-benar dipahami.
Berdasarkan pengalaman tersebut, ada lima pertanyaan mendasar yang selalu kami uji kembali ketika sebuah proyek mulai kehilangan arah.
Apakah semua stakeholder benar-benar mengejar tujuan yang sama?
Sebuah organisasi mungkin sama-sama menyadari bahwa perubahan perlu dilakukan. Namun, belum tentu setiap stakeholder memiliki pemahaman yang sama mengenai masalah yang ingin diselesaikan maupun hasil yang ingin dicapai.
Ketika tujuan belum selaras, prioritas menjadi mudah berubah, ruang lingkup proyek terus melebar, dan setiap keputusan harus berulang kali diperdebatkan karena masing-masing pihak membawa definisi keberhasilannya sendiri.
Itulah sebabnya, salah satu tujuan terpenting fase discovery bukan sekadar mengumpulkan requirement, tetapi menyamakan pemahaman sebelum solusi mulai dibangun.
Apakah requirement sudah cukup matang untuk mulai dikembangkan?
Requirement bukan sekadar daftar fitur.
Requirement adalah kesepahaman tentang bagaimana proses bisnis seharusnya berjalan dan tujuan apa yang ingin dicapai melalui sistem yang akan dibangun. Ketika requirement disusun terlalu cepat tanpa memahami proses bisnis secara utuh, perubahan di tengah jalan hampir tidak dapat dihindari.
Fitur bertambah, prioritas berubah, dan revisi dilakukan berulang kali karena kebutuhan sebenarnya baru dipahami saat pengembangan sudah berjalan. Perubahan bukanlah masalah. Namun, perubahan yang terjadi tanpa arah yang jelas akan menghabiskan waktu, biaya, dan energi seluruh tim.
Apakah proses yang ada saat ini sudah benar-benar layak untuk didigitalisasi?
Tidak semua proses yang berjalan hari ini layak untuk didigitalisasi.
Teknologi memang dapat membuat sebuah proses berjalan lebih cepat. Namun, jika proses tersebut sejak awal tidak efisien, digitalisasi hanya akan membuat ketidakefisienan itu terjadi lebih cepat dan dalam skala yang lebih besar.
Karena itu, sebelum bertanya, “Aplikasi seperti apa yang ingin kita bangun?”, ada pertanyaan yang lebih mendasar:
“Apakah proses yang ada saat ini sudah cukup baik untuk didigitalisasi?”
Apakah semua pihak memiliki definisi keberhasilan yang sama?
Menyepakati tujuan proyek saja tidak cukup. Tim juga perlu menyepakati bagaimana keberhasilan akan diukur.
Dalam banyak proyek teknologi, setiap stakeholder dapat memiliki definisi keberhasilan yang berbeda. Ada yang menganggap proyek selesai ketika aplikasi berhasil diluncurkan. Ada pula yang baru menganggapnya berhasil ketika solusi tersebut benar-benar meningkatkan efisiensi, memperbaiki proses bisnis, atau memberikan dampak bagi organisasi.
Ketika ukuran keberhasilan tidak disepakati sejak awal, ekspektasi menjadi mudah berbeda. Akibatnya, proyek dapat selesai sesuai rencana, tetapi tetap dianggap gagal karena hasil yang diperoleh tidak menjawab harapan seluruh pihak.
Apakah teknologi benar-benar fondasi sebuah proyek digital?
Bahasa pemrograman, framework, maupun cloud provider tentu memiliki perannya masing-masing. Namun, semuanya merupakan keputusan implementasi, bukan titik awal sebuah proyek.
Fondasi sebuah proyek digital dibangun dari pemahaman terhadap manusia yang akan menggunakannya, proses bisnis yang ingin diperbaiki, serta tujuan yang ingin dicapai.
Ketika fondasi tersebut kuat, keputusan teknis menjadi jauh lebih mudah karena teknologi tidak lagi dipilih berdasarkan tren, melainkan berdasarkan kebutuhan yang benar-benar ingin diselesaikan.
Di Zeamae, kami percaya bahwa teknologi hanyalah alat.
Nilainya ditentukan oleh seberapa baik kita memahami manusia, proses, dan tujuan bisnis yang ingin dilayani.
Karena itu, sebelum membangun sistem, pertanyaan terpenting bukanlah “Teknologi apa yang akan digunakan?”, melainkan “Apakah kita sudah memahami masalah yang sebenarnya ingin diselesaikan?”
—
Mari membangun sistem yang lebih baik, bersama.
Building Better Systems.